Sampai Kapan Jadi Penonton?

Piala Dunia 2010 memang sudah lewat, sebagai pecandu sepak bola dan berkeyakinan bahwa sepak bola adalah pembawa kedamaian di muka bumi ini, perhelatan akbar 4 tahunan itupun kini menyisakan kerinduan bagi saya, ya saya rindu suara Vuvuzela yang menyebalkan itu, saya rindu dengan atmosfir dimana pada saat kemarin itu, setiap hari terasa spesial dari biasanya.

Saya rindu dengan permainan pragmatis yang membuat naik temperatur kemarahan saya karena pertandingan berjalan dengan sangat membosankan dari beberapa tim yang saya maki-maki melalui twitter saya. Terdengar berlebihan, namun itulah keadaan yang saya rasakan.

Memang aneh, negara tercinta ini pun sebenarnya tidak ikut serta berpartisipasi pada perhelatan akbar tersebut, tidak juga tercatat dalam sejarah bahwa INDONESIA pernah menjadi kontestan piala dunia! *(Lupakan Hindia Belanda, karena menurut saya mereka belum INDONESIA)

Saling ejek, saling caci maki ketika tim kesayangan nya beradu di lapangan hijau, fanatisme yang luar biasa dari beberapa orang yang tertuang dalam berbagai bentuk dukungan terhadap tim kesayangan nya yang tersebar di berbagai sosial media, sementara kita semua tahu bahwa mereka yang berlaga adalah bukan tim nasional INDONESIA.

Saya kadang menyimpulkan bangsa kita adalah bangsa yang miskin identitas, saya kadang berpikir apakah di negara-negara yang menjadi kontestan piala dunia itu mempunyai pendukung fanatik seperti sekumpulan bangsa yang berada di ujung timur ini? menurut saya sih tidak seheboh disini :D
Ya, miskin identitas yang disebabkan oleh faktor lelah berharap untuk menyaksikan kesebelasan Indonesia tampil di pentas dunia !

Ditengah miskin prestasi nya itu ternyata 60 Pengurus PSSI masih bermuka tebal, mereka bertolak ke Afsel untuk menjadi penonton, sekali lagi PENONTON dengan biaya Rp 7,6 miliar yang kabarnya biaya tersebut sebagian adalah subsidi dari FIFA untuk perkembangan sepak bola kita.

Pertanyaannya, apa yang bisa dikembangkan dengan mengirimkan 60 orang untuk menyaksikan secara berjamaah pertandingan antara Jerman-Spanyol? apakah sehabis menyaksikan partai tersebut timnas kita akan menjadi tambah jago? apakah sehabis berjalan-jalan massal di Afsel kita mempunyai timnas yang kuat yang minimal sanggup dan mampu melumat raksasa Asia ? Ataukah PSSI ingin “mencuri ilmu” menjadi tuan rumah piala dunia?

Saya kadang berpikir, dalam tubuh organisasi PSSI apa sih yang di perjuangkan selain uang, uang dan uang ?
Tidakkah kalian peduli dengan prestasi sepak bola kita yang bahkan kian hari kian memalukan ?
Tidakkah kalian sadar berapa besar talenta-talenta muda yang seharusnya terbina melalui proses re-generasi, namun terbuang sia-sia karena tidak di bina dengan baik sejak dini ?
Pernahkah kalian berpikir bagaimana caranya membangun sebuah pembinaan tim nasional yang solid dan berkesinambungan ?
Dari 250 Juta jiwa, saya yakin MINIMAL separuh dari jumlah penduduk kita sangat berharap tim merah putih tidak terus-terusan menjadi penonton dan tim ayam sayur !!
Sampai Kapan ?!